RajaCerdas.ORG Situs Poker Online Terpercaya dengan Bonus Rollingan dan Referral Tertinggi

Header Ads

bandarq BandarQ bandarq Agen Togel Terpercaya

Faktor Alam Jarang Sebabkan Karhutla

Faktor Alam Jarang Sebabkan Karhutla

Faktor Alam Jarang Sebabkan Karhutla



Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat mengatakan hal alam jarang mengakibatkan peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan keterangan dari lembaga ini, penyebab kebakaran hutan yang sering terjadi dampak faktor manusia.

Berdasarkan keterangan dari Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat, Meiki Paendong kekeliruan manusia ini mengakibatkan api membesar sampai mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Yang sangat sering memungkinkan ialah faktor kegiatan manusia. Misalnya meninggalkan puntung cerutu menyala, meninggalkan benda-benda pemicu munculnya api laksana botol kaca. Meninggalkan bara bekas tungku yang masih menyala. Dan atau bahkan sengaja dihanguskan dengan maksud tertentu,"

Ia menuliskan penyebab karhutla dampak faktor alam paling jarang terjadi dikomparasikan faktor manusia. Meiki menuliskan saat ini penyebab kebakaran sedang diselidiki oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Jabar, dan polisi.

"Penyebab kebakaran hutan dapat karena hal alam dan manusia. Kalau hal alam seringkali dipicu oleh sambaran petir. Tapi itu nyaris sangat jarang terjadi," katanya.

Meski demikian, ia tak menampik bila musim kemarau menjadi penyokong terjadinya kebakaran hutan di Indonesia. Hal ini diungkap berhubungan dengan dugaan-dugaan hal penyebab kebakaran hutan di Gunung Ciremai pada 7 Agustus 2019. Kebakaran itu, menurutnya diperparah dengan eksistensi vegetasi tanaman di Gunung Ciremai yang rentan terbakar di musim kemarau.

"Secara morfologi, Gunung Ciremai ditumbuhi pelbagai tumbuhan. Beberapa diantaranya habitat tanaman perdu dan rumput serta semak belukar ini rentan sekali terbakar bila musim kemarau," katanya.

Berdasarkan keterangan dari situs Taman Nasional Gunung Ciremai, tempat kebakaran hutan berada pada elevasi 2.600 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Posisi itu berada selama 20 meter di atas pos Sanghyang Ropoh. Pos Simpang Apuy-Palutungan diadukan telah terlahap api pada sisi kanan dan kiri jalur pendakian.

Lokasi titik api sulit dicapai oleh perlengkapan pemadam laksana "jet shooter" dan mesin pompa air sebab berada pada medan terjal, curam, dan tak terdapat sumber air.

Oleh sebab itu,petugas campuran menggunakan perlengkapan tangan laksana golok, cangkul, dan gepyok untuk menciptakan sekat bakar dan pemadaman langsung.

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.