Sinopsis 'Survival Family', Cara Bertahan Saat Mati Lampu
Sinopsis 'Survival Family', Cara Bertahan Saat Mati Lampu

Mati listrik di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi hingga sejumlah kawasan di Jawa Barat terjadi semenjak siang sampai malam hari pada Minggu (4/8). Jaringan komunikasi sampai ketersediaan air terganggu sebab pemadaman listrik.
Banyak urusan yang akhirnya dilaksanakan masyarakat mulai dari tetap berdiam di lokasi tinggal ditemani dengan lilin atau lampu terpaksa hingga 'mengungsi' ke pusat perbelanjaan.
Perfilman Jepang pernah mengusung gejala tersebut ke layar lebar dua tahun kemudian dalam Survival Family. Film ini diciptakan Shinobu Yaguchi setelah menyaksikan gempa bumi, tsunami serta kebocoran reaktor nuklir di Jepang pada 2011.
Survival Family menceritakan cerita keluarga Yoshiyuki Suzuki yang bertahan hidup dalam situasi padam listrik. Tanpa teknologi atau perlengkapan elektronik laksana ponsel, laptop, komputer, televisi.
Keluarga Suzuki dicerminkan Yaguchi sebagai family Jepang yang sibuk dengan urusan setiap di kehidupan sehari-hari. Sang ayah tidur-tiduran di depan televisi, sedangkan ibu sibuk dengan hal dapur dan si anak yang tak dapat lepas dari gawai.
Kekurangharmonisan family ini dicerminkan dengan baik dengan memperlihatkan perilaku tak sopan sang anak untuk orang yang lebih tua.
Permasalahan berawal ketika Tokyo merasakan mati listrik. Ibu kota Jepang yang dikenal dengan kecanggihan teknologinya tersebut jadi ricuh dan berantakan sebab pemadaman listrik berkepanjangan.
Keluarga Suzuki pun terpapar imbasnya. Terlebih, sarana transportasi umum tak bermanfaat sebagaimana harusnya, sampai-sampai mereka mesti mengemudikan kendaraan pribadi, bahkan berlangsung kaki guna sampai ke sekolah dan kantor.
Perkantoran dan sekolah lantas mulai diliburkan. Ketika di rumah, sebab tak tidak sedikit yang dapat dikerjakan dalam kegelapan, family Suzuki merasakan keindahan langit yang tampak berkilauan karena listrik mati. Hal yang tak pernah mereka kerjakan sebelumnya.
Tanpa kepastian kapan listrik pulih kembali, duit semakin tak berarti. Jam mahal sampai mobil ditampik mentah-mentah ketika berkeinginan ditukar dengan air yang menjadi keperluan semua orang ketika itu.
Sepeda pun menjadi transportasi yang dapat digunakan sebab sarana beda tak berfungsi. Berbekal uang, makanan serta minuman seadanya, Suzuki menyuruh keluarganya untuk terbit dari Tokyo.
Mereka berencana pindah ke Kagoshima, 850 mil dari Tokyo, dengan mengandalkan kertas peta. Perjuangan juga semakin terasa di sepanjang perjalanan mereka sekitar 108 hari.
Film ini mengindikasikan hal-hal yang terpenting dalam kehidupan tetapi kerap dilalaikan seiring dengan pertumbuhan teknologi. Survival Family yang berdurasi 117 menit ini bergenre komedi sci-fi.
Sinopsis 'Survival Family', Cara Bertahan Saat Mati Lampu

Mati listrik di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi hingga sejumlah kawasan di Jawa Barat terjadi semenjak siang sampai malam hari pada Minggu (4/8). Jaringan komunikasi sampai ketersediaan air terganggu sebab pemadaman listrik.
Banyak urusan yang akhirnya dilaksanakan masyarakat mulai dari tetap berdiam di lokasi tinggal ditemani dengan lilin atau lampu terpaksa hingga 'mengungsi' ke pusat perbelanjaan.
Perfilman Jepang pernah mengusung gejala tersebut ke layar lebar dua tahun kemudian dalam Survival Family. Film ini diciptakan Shinobu Yaguchi setelah menyaksikan gempa bumi, tsunami serta kebocoran reaktor nuklir di Jepang pada 2011.
Survival Family menceritakan cerita keluarga Yoshiyuki Suzuki yang bertahan hidup dalam situasi padam listrik. Tanpa teknologi atau perlengkapan elektronik laksana ponsel, laptop, komputer, televisi.
Keluarga Suzuki dicerminkan Yaguchi sebagai family Jepang yang sibuk dengan urusan setiap di kehidupan sehari-hari. Sang ayah tidur-tiduran di depan televisi, sedangkan ibu sibuk dengan hal dapur dan si anak yang tak dapat lepas dari gawai.
Kekurangharmonisan family ini dicerminkan dengan baik dengan memperlihatkan perilaku tak sopan sang anak untuk orang yang lebih tua.
Permasalahan berawal ketika Tokyo merasakan mati listrik. Ibu kota Jepang yang dikenal dengan kecanggihan teknologinya tersebut jadi ricuh dan berantakan sebab pemadaman listrik berkepanjangan.
Keluarga Suzuki pun terpapar imbasnya. Terlebih, sarana transportasi umum tak bermanfaat sebagaimana harusnya, sampai-sampai mereka mesti mengemudikan kendaraan pribadi, bahkan berlangsung kaki guna sampai ke sekolah dan kantor.
Perkantoran dan sekolah lantas mulai diliburkan. Ketika di rumah, sebab tak tidak sedikit yang dapat dikerjakan dalam kegelapan, family Suzuki merasakan keindahan langit yang tampak berkilauan karena listrik mati. Hal yang tak pernah mereka kerjakan sebelumnya.
Tanpa kepastian kapan listrik pulih kembali, duit semakin tak berarti. Jam mahal sampai mobil ditampik mentah-mentah ketika berkeinginan ditukar dengan air yang menjadi keperluan semua orang ketika itu.
Sepeda pun menjadi transportasi yang dapat digunakan sebab sarana beda tak berfungsi. Berbekal uang, makanan serta minuman seadanya, Suzuki menyuruh keluarganya untuk terbit dari Tokyo.
Mereka berencana pindah ke Kagoshima, 850 mil dari Tokyo, dengan mengandalkan kertas peta. Perjuangan juga semakin terasa di sepanjang perjalanan mereka sekitar 108 hari.
Film ini mengindikasikan hal-hal yang terpenting dalam kehidupan tetapi kerap dilalaikan seiring dengan pertumbuhan teknologi. Survival Family yang berdurasi 117 menit ini bergenre komedi sci-fi.



Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.