RajaCerdas.ORG Situs Poker Online Terpercaya dengan Bonus Rollingan dan Referral Tertinggi

Header Ads

bandarq BandarQ bandarq Agen Togel Terpercaya

Hikayat Singkat Lembah Baliem

Hikayat Singkat Lembah Baliem

Hikayat Singkat Lembah Baliem



Festival Budaya Lembah Baliem, yang telah dilakukan sejak tahun 1989, sudah memberi akibat positif untuk Papua sebab acara ini tak sekadar menjadi suatu ikon.

Ada pelbagai gelaran kebiasaan yang selalu diperlihatkan dan dilombakan masing-masing tahun ketika acara ini berlangsung. Tentunya semuanya sehubungan dengan keragaman yang terdapat di Lembah Baliem.

Tapi sayangnya belum tidak sedikit yang tahu mengenai Lembah Baliem, dan sejarah yang mengiringinya.

Mengutip kitab profil Festival Budaya Lembah Baliem 2019, Rabu (24/7), area ini ditemukan kesatu kali secara tidak sengaja dalam sebuah pengiriman ilmiah yang dipimpin Richard Archbold.

Tim pengiriman yang disponsori oleh American Museum of Naturally History (AMNH) ini, melintas dan 'bertemu' dengan Lembah Baliem pada 23 Juni 1938.

Saat melintas di udara, Richard Archbold menyaksikan lembah yang luas dari kaca jendela pesawat dan mengerjakan pendaratan. Lembah ini lantas disebut olehnya dengan nama Lembah Agung.

Usai pengiriman yang dipimpin Richard Archbold, terdapat tim pengiriman lain di bawah pimpinan Kapten Teerink dan Letnan van Areken, mengerjakan pendaratan di telaga Yugima (Danau Habema).

Tim pengiriman ini mengerjakan perjalanan mengarah ke arah Lembah Baliem melalui dusun Ibele, dan mereka menegakkan base camp di Lembah Baliem. Setelah era pengiriman tersebut, Lembah Baliem terus menyerahkan kesempatan untuk dunia luar guna masuk ke dalamnya.

Hal ini menciptakan dunia perlahan menjadi saksi masyarakat Pegunungan Tengah masih paling menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaannya, dan memiliki kemampuan untuk membina kehidupannya cocok dengan apa yang dimilikinya.

Salah satu format penghormatan untuk leluhur mereka merupakan, mumi dari jenazah orang-orang yang mempunyai jasa besar di Lembah Baliem. Proses mumi ini dilaksanakan dengan memakai bahan-bahan alami.

Di samping jasad mumi, ragam kebiasaan tradisional di Lembah Baliem ialah perumahan tradisional (honai), pola kehidupan bermasyarakat, perkampungan yang masih sederhana, sampai eksotisme alam.

Berkunjung ke pasar-pasar tradisional pun direkomendasikan, untuk mereka yang hendak mendapatkan sekian banyak potret kehidupan serta kelaziman warga masyarakat Pegunungan Tengah dalam bertransaksi hasil pertanian mereka.

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.