RajaCerdas.ORG Situs Poker Online Terpercaya dengan Bonus Rollingan dan Referral Tertinggi

Header Ads

bandarq BandarQ bandarq Agen Togel Terpercaya

Lukisan Narasi Tertua di Dunia Ditemukan di Gua Sulawesi

Lukisan Narasi Tertua di Dunia Ditemukan di Gua Sulawesi

Lukisan Narasi Tertua di Dunia Ditemukan di Gua Sulawesi




pokerace99 - Tim peneliti Grifftith University, Australia, menemukan lukisan tertua di dunia. Diperkirakan usianya menggapai 44 ribu tahun lebih.

Gambar berwarna merah itu ditemukan pada dinding gua di Sulawesi. Bentuknya menyerupai sekelompok manusia yang sedang berburu hewan liar.

Temuan ini dimuat dalam jurnal Nature. Artikel selanjutnya tunjukkan deskripsi tim peneliti Australia mengutarakan lukisan gua yang disebut Leang Bulu 'Sipong 4 di selatan pulau Sulawesi.

Jika interpretasi peneliti mengenai gambar selanjutnya benar, maka ini adalah lukisan tertua yang tunjukkan semacam narasi.

Lukisan tertua di awalnya ditemukan di sebuah batu di Afrika Selatan tahun lalu. Diperkirakan usianya menggapai 73 ribu tahun.

Penulis artikel temuan ini sangat percaya gambar di Indonesia tunjukkan sekelompok figur manusia supernatural berburu kerbau lokal dan babi liar pakai tombak atau tali. Ciri ini muncul berasal dari mahkota berbentuk kepala burung.

" Saya belum pernah menjumpai yang layaknya ini sebelumnya," ujar arkeolog Griffith University, Adam Brumm, yang terlibat dalam penelitian.

" Maksud saya, kami telah melihat ratusan web seni batu di kawasan ini, tetapi kami belum pernah menemukan adegan berburu," kata dia melanjutkan.

Brumm mengatakan dia hingga berteriak kegirangan ketika pertama kali ditunjukkan foto-foto buram lukisan dinding selanjutnya oleh koleganya.

Sebenarnya, gua-gua tempat ditemukannya lukisan ini telah dikaji selama puluhan tahun. Tapi lukisan ini ternyata luput berasal dari pengamatan.

Sebabnya, lukisan selanjutnya berada di tempat yang tinggi. Gambar itu baru ditemukan sesudah seorang arkeolog memanjat pohon ara.

" Jika tanggal dalam artikel selanjutnya benar, lukisan ini dapat jadi gambar kiasan paling awal yang dikenal di mana saja, dan temuan ini terlampau penting," kata arkeolog University Tubingen, Jerma, Nicholas Conard, memberikan komentar.

Kera dan manusia sering disejajarkan dalam garis evolusi Darwinian. Tetapi, ada banyak pertanyaan yang muncul mengenai ketidaksamaan manusia bersama dengan kera.

Seperti kami ketahui, kera mempunyai bulu yang memenuhi sekujur tubuh hingga tangannya.

Meski masih jadi perdebatan dan kajian para peneliti biologi, ada banyak hipotesis yang berupaya mengatakan alasan-alasan di balik fenomena tersebut.

Dalam sebuah belajar baru, para peneliti menemukan ada protein dalam kuantitas khusus untuk pilih pertumbuhan bulu pada kulit plantar atau telapak kaki.

Protein yang pilih ada atau tidaknya bulu di telapak kaki ini disebut bersama dengan Dickkopf 2 atau Dkk2. Menurut para peneliti, kelinci dan beruang mempunyai bulu yang lebat di plantar mereka gara-gara mempunyai Dkk2 dalam kuantitas sedikit.

Sebaliknya, tikus hampir tidak mempunyai bulu atau rambut pada telapak kakinya gara-gara punya kandungan Dkk2 dalam kuantitas besar.

Peneliti berasal dari University of Pennsylvania menduga Dkk2 bisa saja telah memblokir jalan khusus yang bertanggung jawab menumbuhkan bulu, atau disebut bersama dengan WNT.

Untuk membuktikannya, para peneliti merekayasa tikus sehingga tidak membuahkan Dkk2. Tikus itu selamanya mengembangkan bulu pada kulit telapak kakinya.

Tetapi bulu yang tumbuh selanjutnya lebih tipis, lebih pendek, dan lebih tersebar secara acak daripada bulu-bulu hewan lainnya.

Dari percobaan selanjutnya menyadari muncul peran penting protein di dalam plantar. Meski demikian, bukti ini masih kudu diteliti secara lebih mendalam di jaman depan.

" Dkk2 lumayan untuk menghambat bulu untuk tumbuh, tetapi tidak menghilangkan mekanisme pemeriksaan di dalamnya. Masih banyak yang kudu diteliti," kata Profesor Sarah Millar, Ahli Dermatologi berasal dari Perelman School of Medicine di University of Pennsylvania.

" Kita mempunyai rambut yang panjang di kulit kepala, tetapi pendek di tempat tubuh lainnya. Kita juga tidak berbulu di telapak tangan dan anggota bawah pergelangan tangan serta telapak kaki kita. Tidak ada yang menyadari bagaimana bisa terjadi perbedaan ini," kata Millar.

Meskipun tidak memberikan deskripsi lengkap, tetapi penelitian ini mengutarakan wejangan menarik mengenai misteri rambut dan kebotakan.

Para peneliti berpikir bahwa jalan WTN merupakan kunci untuk mengatakan fenomena kebotakan. Langkah selanjutnya yakni menyelidiki protein lain yang bisa saja menghambat jalan ini.

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.